Senin, 24 Mei 2021

Berani Berkarya Lewat Menulis

Menulis sampai dengan menghasilkan  karya berupa buku antagoni pasti tidak mudah. Apalagi kalau karya yang dihasilkan itu berupa buku Solo atau buku sendiri. Karena setiap buku yang diterbitkan harus memiliki daya tarik supaya tulisan kita diterima oleh penerbit dan banyak orang mau membaca buku tersebut. 

Menulis untuk berkarya. Itulah yang diuraikan narasumber pada malam hari ini, yaitu bapak Sahat Serasi Naibaho, S.Si.,Gr. Beliau adalah guru di SMPN 2 Dolok Sigompulon, yang baru setahun menekuni dunia literasi dan langsung terjun payung dengan menghasilkan buku dan karya tulis yang sangat menginspirasi banyak orang. Beliau sudah menghasilkan karya berupa buku solo dan juga buku antogoni. Dan saat ini beliau sebagai tim dan narasumber di kelas Menulis Buku Inspirasi (MBI) WAG yang diasuh oleh bunda Lilis Sutikno, guru inspirasi NTT.

Malam ini pembelajaran dibagi atas dua sesi, yaitu pemaparan dan tanya jawab yang dimoderatori oleh bapak Azryasalam, M.Pd, beliau adalah seorang guru di Pariaman Sumatera Barat. Kegiatan ini  dimulai pukul delapan malam sampai pukul sepuluh malam. Kegiatan ini disebut Pelatihan Menulis Bersama Pak Naff (MBPN) berlangsung secara daring via WAG.

Bermula dari ikut bergabung dalam grup menulis yang diselenggakan oleh Bapak Wijaya Kusumah (Om Jay) dari PGRI Pusat, bapak Sahat Serasi Naibaho mulai belajar menulis tepatnya pada 10 Juni 2020. Ini waktu yang bisa dikatakan sangat singkat bagi pak Sahat yang sehari-hari berprofesi sebagai guru di SMPN 2 Dolok Sigompulon untuk menekuni dunia literasi sehingga bisa menghasilkan karya yang sangat menginspirasi.

Pada pemaparannya beliau menyampaikan ada 7 hal yang perlu bagi kita yang mau menjadi penulis yang berkarya, yaitu: 

1. Menulis merupakan tindakan untuk menoreh catatan sejarah. Menjadi penulis harus punya NIAT yang sungguh-sungguh. Seorang penulis harus punya alasan yang kuat untuk apa pentingnya menulis. Niat itu harus datang dari diri sendiri sehingga perlu ada keseriusan untuk menekuni dunia literasi. Karena tidak ada ruginya kita menjadi penulis, yang ada kita rugi kalau tidak menjadi penulis.

Dalam menulis kita harus punya alasan yang kuat untuk apa kita menulis. Ada beberapa alasan mengapa seseorang mau menulis, yaitu:

Pertama, Orientasi Material. Tujuannya mengejar uang, bisa royalti, fee pembicara dan semacamnya. apalagi jika berhasil menulis novel yang sampai diangkat ke layar lebar. 

Kedua, Orientasi Eksistensial. Tujuannya mengejar popularitas dan pengakuan daari masyarakat. 

Ketiga, Orientasi Personal. Bersifat lebih pribadi dengan tujuan untuk mencurahkan atau mengekspresikan perasaan, pengalaman atau kisah pribadi agar dapat dibaca oleh orang lain.

Keempat, Orientasi Sosial. Tujuannya untuk mempengaruhi atau mengubah cara berpikir masyarakat serta membangun peradaban. 

Kelima, Orientasi Spiritual. Tujuannya untuk beribadah dan memperoleh pahala dengan mengajak pembaca melakukan perbuatan baik. 

2. Menjadi penulis harus punya KOMITMEN untuk tekun menulis setiap hari dan harus ada rasa bersalah ketika kita tidak menulis. Dimulai dari satu paragraf setiap hari, meningkat lagi dua paragraf, tiga paragraf dan terus meningkat. Sangat penting berfokus untuk tetap menulis dan memiliki mental seorang penulis yang pantang menyerah. Mulailah menulis dengan hal yang sering dilakukan seperti aktivitas sehari-hari, hobi atau hal-hal yang disenangi. Apa yang kita alami, rasakan atau pikirkan langsung saja kita tuliskan tanpa harus menunggu ide brillian muncul. 

3. Sangat penting untuk kita bergabung dengan komunitas menulis karena komunitas menulis akan selalu memotivasi kita untuk senantiasa menulis. Seorang penulis tidak bisa menulis sendiri. Seorang penulis akan sangat membutuhkan inspirasi, masukan atau ide ide cemerlang jika dia bergabung dengan komunitas.

4. Ikut menulis di buku antologi. Akan sangat sulit jika seorang penulis pemula untuk buku sendiri. Untuk memulai menulis kita bisa menulis di buku antologi bersama dengan para penulis lainnya. Pada buku antologi kita hanya perlu menulis satu judul tulisan (artikel). Kalau kita sudah mantap menulis maka lama-kelamaan kita akan terbiasa dan akhirnya akan mampu menulis sebuah buku sendiri (solo).

5. Banyak membaca. Seorang Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Sangat perlu untuk banyak membaca. Karena dengan membaca akan memperkaya perbendaharaan kata-kata kita. Dengan membaca buku, blog orang lain, kamus, atau sumber-sumber bacaan lainnya akan meningkatkan kualitas kita sebagai penulis.

6. Menulis dengan hati. Segala sesuatu yang dikerjakan dari hati akan lebih terasa ringan. Tulisan yang diekspresikan dari hati akan menggugah setiap pembacanya. Disadari atau tidak, tulisan yang dipengaruhi luapan ekspresi dari hati akan berbeda dengan tulisan dari hasil penuangan gagasan dari pikiran.

7. Belajar tata cara penulisan yang baku dan benar. Apabila kita sudah terbiasa menulis, maka hal yang perlu kita pelajari adalah belajar tata cara penulisan yang baku dan benar sesuai dengan aturan yang ada, demi kesempurnaan tulisan yang kita hasilkan.

Selain itu kita harus mengetahui bahwa sangat banyak manfaat dari menulis, diantaranya:

  1. Meningkatkan kreativitas diri karena dengan menulis maka akan semakin mengaktifkan otak untuk berfikir dan berkreasi.
  2. Wadah untuk menuangkan emosi atau perasaan, dalam hal ini adalah perasaan sedih, senang atau marah atau hal-hal lain yang mengganjal hati akan terlampiaskan.
  3. Hidup menjadi lebih terorganisir karena terbiasa membuat outline atau kerangka tulisan.
  4. Memperkuat daya ingat. Otak akan selalu aktif sehingga daya ingat juga akan tetap aktif, berguna mencegah atau mengurangi frekuensi dari kepikunan. 
  5. Meningkatkan kemampuan dalam berbahasa yang baik
  6. Menghasilkan uang dari hasil penjualan buku, royalti, apalagi bila buku kita menjadi buku "Best Seller".
  7. Menghasilkan karya tulis yang dihasilkan berguna sebagai syarat untuk kenaikan pangkat bagi guru PNS.
  8. Memperluas pertemanan
  9. Semakin dikenal orang lain.

Kita ini semua sesungguhnya adalah penulis. Kita pasti sudah terbiasa menulis di sosial media seperti menulis chat di whatsapp, facebook, atau juga instagram. Tergantung kita mau mewujudkannya mau menjadi penulis yang menghasilkan karya tulis atau hanya penulis biasa.

Diakhir pemaparannya beliau memberikan beberapa kata bijak yang menjadi penyemangat malam ini, yaitu:

1. Petikan dari KH. A. Wahid Hasyim : Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini?

2. Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian. (Pramoedya Ananta Toer)

3. Kata kunci supaya bisa menjadi penulis adalah 3M. Mulai, Mulai, dan Mulai. Sebagus apapun teori kita dalam menulis, jika kita tidak segera mulai untuk menulis, maka tidak akan terjadi apa-apa. 

Pada sesi tanya jawab, pak Sahat menegaskan bahwa untuk menjadi seorang penulis luangkan waktu untuk menulis, jangan tunggu waktu luang baru menulis. Karena menulis bisa dilakukan dimana saja dan kapan saja. Setiap hari pasti ada cerita dalam perjalanan hidup kita yang bisa kita tuliskan. Oleh sebab itu ketika ada ide langsung ditulis dan usahakan menulislah setiap hari.

Belajarlah terus untuk menjadi seorang penulis yang gemar menulis dan menghasilkan karya tulis. Ketika terus belajar dan bekerja keras yakinlah bahwa kelak kita akan menghasilkan buah yang memuaskan yaitu karya-karya kita yang akan digemari banyak orang.

Sekian.


Devita Sihombing, 24 Mei 2021

Guru SMP di Kab.Batubara Sumatera Utara

2 komentar:

  1. Keren Bu guru, , semakin Sempurna... Tetap Semangat 👍👍👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih untuk supportnya pak....harus semangat pak, biar bisa ikuti jejak pak guru

      Hapus

Koneksi Antar Materi – Pendidikan yang Memerdekakan

  by POSMAULI DEVITA SIHOMBING    Setiap individu lahir dengan kodrat dan keunikannya masing-masing Selaras dengan pemikiran KHD bahwa...