Selasa, 28 September 2021

1.3.a.5.1 Pemetaan Kekuatan

 

Pemetaan Kekuatan
 

        Salam guru Penggerak.

       IA atau Inkuiri Apresiatif dikenal sebagai pendekatan managemen perubahan yang berkolaborasi dan berbasis kekuatan. IA menggunakan prinsip utama psikologis positif dan pendidikan positif dan percaya bahwa setiap orang memiiki nilai positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. IA (Inkuiri Apresiatif) akan membantu kita dalam mencapai visi yang akan kita susun dengan menggunakan tahapan BAGJA (Dalam bahasa Sunda artinya BAHAGIA), dimulai dari Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana dan Atur Eksekusi.

Informasi yang paling membantu saya dalam peran sebagai guru penggerak kelak adalah :

  • Pendekatan managemen yang kolaboratif dan berbasis perubahan menjadikan sekolah sebagai rumah yang nyaman, aman dan bermakna bagi siswa adalah hal yang diinginkan semua pihak.
  • Reformasi budaya sekolah adalah hal yang bisa dilakukan, melakukan hal positif biasanya butuh waktu untuk perubahan positif dan bertahap.
  • Sebagai guru penggerak hendaknya berlatih mengelola diri sendiri dan terus berupaya menggerakkan atau memberi pengaruh positif kepada orang lain untuk menjalani proses dan praktik baik secara bersama
  • IA atau Inkuiri Apresiatif bisa menjadi salah satu metode untuk mencapai visi yang sesuai dengan visi Ki Hajar Dewantara sesuai dengan visi murid impian yang menjadi cita-cita kita bersama.

Tugas kepemimpinan adalah menciptakan keselarasan kekuatan, dengan cara yang membuat kelemahan suatu sistem menjadi tidak relevan.” Peter F. Drucker


Posmauli Devita Sihombing, S.Pd
CGP Angkatan 3
Kabupaten Batubara Sumatera Utara
 

MODUL 1.3.a.3. MULAI DARI DIRI- VISI GURU PENGGERAK

  

Visi adalah suatu hal yang sangat penting. Visi itu bagaikan membayangkan sebuah lukisan lengkap pada kanvas yang masih kosong. Visi juga dapat diibaratkan sebagai bintang penunjuk arah yang memandu penjelajah untuk mencapai tujuannya. Visi adalah sesuatu yang belum terjadi saat ini, namun kita yakini akan terwujud di masa depan.

Jika dihadapkan dengan sebuah pertanyaan, “apa arti penting visi bagi saya sebagai seorang guru?” Tentu saja pasti ada jawaban yang tersimpan di hati yang sangat ingin diwujudkan oleh seorang guru penggerak.  Sebagai seorang guru, visi juga suatu hal yang sangat penting dan sangat mendasar, yang akan menuntun seorang guru dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Menjadikan murid menjadi seseorang yang memiliki masa depan yang cemerlang dan sukses akan menjadi impian setiap guru.

Visi seorang guru penggerak terletak pada tujuan yang ingin dicapai terkait pembelajaran berpihak pada anak. Dengan adanya visi ke depan, maka seorang guru penggerak akan melangkah terarah. Setidaknya calon guru penggerak tahu dalam melangkah. Fokus pada satu titik, akan mempermudah saya menyusun rencana perubahan positifnya. Dengan visi yang dimiliki, akan membuat calon guru penggerak berpikir cepat mencari jalan lain saat menemukan berbagai tantangan. Calon guru penggerak selalu belajar dari kegagalan mencapai tujuan melalui strategi yang tepat.

Visi seperti apa yang anda miliki sebagai guru? Ini menjadi suatu pertanyaan yang menantang bagi saya karena sebagai calon guru penggerak, visi ke depan tentu harus berpihak pada murid. Selain itu, juga harus menyesuaikan dengan kodrat zaman anak. Dengan memperhatikan kekuatan dan potensi yang dimiliki murid. Pengenalan kekuatan dan potensi murid akan memudahkan calon guru penggerak dalam membentuk ekosistem pembelajaran yang mendukung tumbuh kembang anak didik. Oleh karena itu visi guru penggerak hendaknya memiliki keterkaitan antara kodrat anak dengan peran sebagai guru penggerak dalam ekosistem pembelajaran.

Sebagai salah seorang calon guru penggerak, saya memimpikan memiliki murid yang memiliki profil pelajar pancasila yaitu murid yang berkarakter dan berbudaya. Murid yang berkarakter Pancasila akan lebih mudah untuk mengikuti perkembangan zaman. Tentunya dengan tetap berpegangan pada nilai-nilai bangsa. Murid yang memiliki karakter Pancasila akan mendukung ekosistem pembelajaran yang lebih berpihak pada murid. Selain itu, impian lainnya adalah murid berbudaya. Keberadaan murid yang berbudaya akan membuat ekosistem pembelajaran menjadi lebih hidup yang menyenangkan bagi murid.

 


 Untuk ke depannya saya juga mempunyai mimpi sekolah dimana saya percaya murid adalah subjek pendidikan yang memiliki potensi beragam untuk dikembangkan sesuai kodrat alam dan zaman. Jika hal ini tercapai, maka pendidikan berpihak pada murid akan terwujud. Diharapkan sekolah akan berkembang menjadi pusat pendidikan yang memahami kebutuhan murid dalam mengembangkan kekuatan dan potensinya. Karenanya saya juga bermimpi sekolah saya mengutamakan terbentuknya ekosistem pembelajaran berpusat pada murid sesuai kodratnya.

Murid di sekolah saya sadar betul bahwa untuk mencapai keberhasilan pendidikan mereka harus terlibat dan dilibatkan aktif dalam proses pembelajaran. Murid juga harus berusaha mandiri mengembangkan kekuatan dan potensi dirinya. Terlibat aktif dalam berbagai ruang-ruang kreatif yang ada di sekolah merupakan harapan besar.

Di sisi lain, saya juga memimpikan guru di sekolah saya akan melakukan perubahan positif dalam proses pembelajaran di kelas. Hal ini akan memacu guru untuk terus berbenah. Selain itu juga membuat guru mampu kreatif dan inovatif dalam menumbuhkan murid. Oleh karena itu kelak pada akhirnya guru di sekolah saya paham bahwa untuk melakukan perubahan positif harus dilakukan secara terus-menerus dan berkesinambungan.

Visi guru penggerak yang saya simpulkan adalah ‘Mewujudkan murid pembelajar yang Berkarakter dan Berbudaya dalam Ekosistem Pembelajaran Berpihak pada Murid’ seperti pada gambar berikut ini.


            Demikian penyajian yang saya sampaikan melalui tahap ini tentang visi guru pengegrak. Dan kiranya saya bisa menerapkan visi pribadi saya sebagai seorang guru penggerak.

 

 

Posmauli Devita Sihombing, S.Pd

CGP Angkatan 3

Kabupaten Batubara Sumatera Utara

Rabu, 15 September 2021

Terimakasih guruku


Suara klakson mobil terdengar siang ini dari teras rumah. Bu Siti yang sedang menggoreng ikan gurami langsung berlari dari dapur untuk membuka gerbang. Ternyata jam dinding menunjuk pukul 5 sore. Ini adalah waktu dimana mama dan papaku pulang kerja. 

Sesampai di garasi, mama turun dari mobil langsung menghampiri saya yang lagi asyik di depan laptop. 

"Lagi apa sayang", tanya mama.

"Ini ma, lagi nonton Drakor", jawabku.

Mama langsung duduk di sebelahku, mendampingiku sambil memeluk tubuhku yang imut. 

 

Setiap hari mama papa kerja dari jam 7.30 sampai sore 16.00. Sampai dirumah biasanya jam lima sampai jam 6 sore. Terkadang mereka juga lembur sampai malam. 

Setiap hari mama dan papa sibuk kerja. Sampai sampai tidak punya waktu untuk menemaniku bermain. 

Tapi yaa sudahlah, toh saya juga punya gawai yang selalu menemaniku seharian di rumah. 

Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku selalu sibuk dengan kegiatan ekskul pramuka nya. Hampir setiap hari dia keluar rumah. Kakak kedua juga sama. Sejak papa belikan dia sepeda motor dia jadi sering kali tour sama teman temannya. Padahal dari usianya yang masih duduk dibangku kelas 8 seharusnya dia belum bisa bawa sepeda motor karena kan belum punya SIM.

Aku yang masih kelas 5 SD selalu dirumah ditemani ibu Siti. 

Om bob selalu setia menemaniku, antar jemput ku ke sekolah. 

Hari ini ada tugas Matematika. Sulit rasanya aku membuka buku mm ku. Bermain game di gawailah membuatku betah di rmh. 

Ratusan Anak di Jawa Barat Kecanduan Gadget Sudah Dirawat di Rumah Sakit  Jiwa, Hati-hati Bunda! - Hulondalo.id

Ada temanku namanya Osmar. Dia anak yang pintar, pendiam, polos dan penurut. Dan banyak gitu yang senang padanya bahkan memanfaatkan kepolosanya. Saya sering mentraktir nya jajan di kantin hanya supaya dia mau mengerjakan pr ku bukan hanya mm tapi semua pelajaran. 

 

Bukan cuman aku ada lebih dari 10 orang kawanku melakukan hal yang sama pada Osmar. Kawan lain tau akan hal ini tapi tak ada yang berani melapor ke guru. 

 

Suatu ketika selesai belajar bahasa Indonesia, ibu Vani memanggil Osmar dan membawanya ke ruang guru. Karena setelah ibu Vani mengumpulkan tugas anak-anak, ternyata hampir semua buku PR yang diperiksa ibu tulisannya sama. 

 

Bukan cuman ibu Vani, semua guru yang masuk ke kelas saya menyatakan juga hal yang sama. Namun Osmar tetap membisu tidak mw mengakui kalo semua itu tulisannya. Dia takut kalau kawan kawan marah padanya. 

 

Lalu bu guru memanggil Angga teman sebangku Osmar. Lalu Angga menceritakan bahwa setiap hari setelah selesai pembelajaran kawan kawannya memberikan buku tugas kepada Osmar untuk dibawa pulang. Di rmh lah Osmar menulis setiap tugas dibuku kawan kawan tersebut. Dan itu sudah berlangsung lama. 

Bagi mereka yang pengertian, ada yang mentraktirnya jajan, ada yang memberi uang, ada yang hanya bilang trimakasih. Osmar terpaksa mau melakukannya, selain karena takut pada kawan, Osmar juga butuh jajan dan uang karena memang Osmar hampir tidak pernah dikasi uang jajan oleh orang tuanya. 

 

Osmar tinggal di pinggir sungai. Pencarian Orangtuanya hanyalah mencari ikan di sungai. Kalau dapat ikan ya bisa dijual dan buat makan. Terkadang orangtuanya bekerja upahan diladang tetangga. Penghasilannya cukup memprihatinkan. 

 

Ibu guru memanggil 10 kawan osmar. Menurut ibu guru mungkin ini hal serius sehingga harus memanggil kami bersepuluh. Jantung saya berdetak begitu kencang, takut kalau nanti orangtuaku dipanggil ke sekolah. Memang orangtuaku tidak pernah memberikan hukuman fisik pada ku, tetapi pengurangan uang jajan pasti dilakukan dan ini membuatku sangat stress.

 

Ibu Vita yang adalah wali kelas kami sudah menunggu di ruang BK bersama guru BK dan Ibu Vani. Satu persatu kami dinterogasi oleh guru BK. Terkadang keluar suara-suara keras dari mulut ibu BK terkadang juga keluar celotehan lembut yang menyejukkan hati.

 

Banyak sekali nasehat dan semangat yang diberikan ketiga ibu guru tersebut kepada kami. Tapi seperti angin lalu di telingaku. Aku dan teman-teman hanya mengangguk-angguk tanda mengerti atau apa, akupun tak tahu. Terkadang aku lirik-lirikan dengan kawan disebelah, kadang juga senggolan kecil pertanda ingin memberi kode.

 

Ibu BK tetap memberikan celotehannya dengan banyak nasihat. Namun entah kenapa Ketika ibu BK akan membuat surat panggilan orangtua, kami langsung serentak teriak histerus.

“Jangan ibu, jangan, kami nggak akan melakukan kesalahan ini lagi”, teriak Iwan yang kebetulan duduk dibelakangku.

 

Satu persatu kami menangis serasa menyesali kesalahan kami. Wajah-wajah penyesalan pun mulai muncul diraut kami yang polos setelah surat panggilan orangtua dikeluarkan.

 

Tangisan dan jeritan kami ternyata bisa meluluhkan hati ibu BK. Dengan suara lembutnya, dia mengajak kami membuat beberapa kesepakatan, dengan tanpa memanggil orangtua.

 

Kesepatannya antara lain:

Membersihkan kamar mandi cowok dan membersihkan halaman sekolah selama satu bulan setiap jam istirahat. Meminta maaf pada Osmar dan mau bersahabat dengan dia bukan karena memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas, tidak lagi meminta Osmar untuk mengerjakan PR kami. Membuat kelompok belajar dikelas dan meminta Osmar untuk mengajari kami belajar di kelas, Mau mengerjakan PR di rumah.

 

Ya..sepertinya kesepakatan ini terlihat gampang, tapi ini beban yang sangat berat bagiku. Terpaksa ini kami setujui supaya orangtua kami tidak dipanggil ke sekolah.

 

Setelah membuat kesepakatan, kami diajak ibu BK untuk merenung sambil menuliskan sebanyak-banyaknya kesalahan kami di sekolah. Ibu Vani menyiapkan kertas dan pulpen dan meminta kami menuangkan isi hati kami di kertas tersebut. Entah kenapa sambil menulis air mata ini selalu mengalir tanpa bisa dibendung, teman-temanku juga mengalami hal yang sama. Entah bius apa yang sudah disuntikkan ibu guru kepada kami saat itu.

 

Ada rasa penyesalan yang mendalam dari diri ini. Sejak saat itu aku bertekad untuk mau berubah. Ibu guru sudah menyadarkanku dan kawan-kawan supaya aku bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

 

Selesai dari sini aku akan kembali kedalam kehidupanku sehari-hari. Namun celotehan ibu guru serasa masih tertinggal di telinga ini. Selalu terngiang-ngiang.

Aku mulai merasakan ada yang berubah dari diri ini. Membaca buku di rumah mulai kutekuni. Mengerjakan tugas di buku sekolahku mulai kukerjakan. Bahkan andriodku bisa diam beberapa jam di atas meja tanpa sentuhanku karena kesibukanku yang baru ini.

 

Terimakasih ibu guru. Celotehanmu sudah mengubah hidupku. Nasihatmu bagai obat manjur bagi tubuhku. Sehingga hari-hariku tidak lagi melulu di depan gawai.

 



Posmauli devita Sihombing,S.Pd
 










Selasa, 14 September 2021

JURNAL REFLEKSI - Minggu 2

 

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3

OLEH: POSMAULI DEVITA SIHOMBING, S.Pd

 

MODUL  1.1.a.10.2

Pada minggu ke 2 ini saya bersama calon guru penggerak lain melakukan Refleksi Terbimbing-Mandiri, Demonstrasi Kontekstual-Mandiri, Elaborasi Pemahaman-Tatap Maya, dan Koneksi Antar materi-Mandiri dari pemikiran Ki Hajar Dewantara.

Pada refleksi terbimbing ini  (Senin, 23 agustus 2021) saya membuat desain kerangka pembelajaran menurut pemikiran KHD. Adapun pertanyaan refleksi yang saya desain adalah tentang peran guru, peran peserta didik, kekuatan diri, hal apa yang perlu saya ubah dan saya perbaiki kedepannya, dengan langkah konkret yang saya lakukan.

Kegiatan demonstrasi kontekstual berlangsung selama dua hari pada selasa-rabu tanggal 24-25 Agustus 202.  Secara mandiri saya menyiapkan suatu tugas demostrasi kontekstual dari pemikiran KHD dalam karya berupa karya teks atau verbal atau visual (bisa berupa video, komik, lagu, puisi, poster, atau infografis) yang menggambarkan pengetahuan dan pemahaman baru dari filosofi pendidikan KHD.

Hal yang sangat menantang bagi saya ketika saya mempersiapkan tugas demostrasi kontekstual ini, dimana awalnya saya kewalahan memilih karya apa yang akan saya persiapkan. Dan saya menetapkan hati membuat puisi. Pemilihan kata demi kata menjadi hal yang rumit sekaligus menyenangkan bagi saya. Karena ada keunikan-keunikan dari setiap kata yang saya buat untuk merangkum serangkaian filosofi KHD dan penerapannya. Puisi ini saya rancang sedemikian rupa dan semenarik mungkin untuk akhirnya diunggah ke LMS.

Elaborasi pemahaman pada kamis 26 Agustus 2021 dilakukan tatap maya melalui webinar. Disini dipertemukan antara seluruh stakeholder yang berhubungan dengan pendidikan guru penggerak. Banyak pembelajaran baru sebagai catatan-catatan penting yang saya dapatkan lewat webinar ini. Pengalaman dari perguruan Taman Siswa dan sekolah lain yang sudah menerapkan merdeka belajar disampaikan oleh ibu Afria Susana, M.Pd dan juga Ki Priyo Dwiarso dan kegiatan ini dimoderatori oleh bapak Simon Rafael. Mereka menjelaskan secara gamblang dengan sangat detail tentang bagaimana pendidikan KHD itu diterapkan di sekolah Taman Siswa.

Kegiatan selanjutnya adalah koneksi antar materi secara mandiri pada hari Jumat 27 agustus 2021. Disini CGP membuat kesimpulan dan refleksi tentang pemikiran KHD dalam bentuk artikel, ilustrasi, grafis, video, rekaman audio, presentasi, infografis, atau artikel di blog, dll. Di sini saya menyajikan karya saya berupa poster sebanyak 5 lembar. Pada kegiatan ini, CGP diminta untuk menanggapi terhadap unggahan CGP lainnya, membaca dan menanggapi komentar dari fasilitator. Dan saya melihat CGP lain sangat antusias dalam memberikan tanggapan yang bagus-bagus dan saling memberikan semangat dan masukan dari sesame CGP. Ini adalah hal  yang sangat menyenangkan bagi saya karena ada interaksi antar CPG walaupun dalam LMS namun mengasyikkan. 

Dalam mengerjakan penugasan minggu ini, saya merasa tidak bekerja sendiri. Saya bersama CGP lain saling menyemangati dan tetap menjalin komunikasi baik di antara semua peserta juga dengan pembimbing (Pendamping praktik) dan dengan Fasilitator.

Akhirnya, pada hari Sabtu, 28 Agustus 2021, pembelajaran pada minggu kedua ini diakhiri dengan Jurnal Refleksi Mingguan. Kali ini sudah memasuki pekan kedua. Tentunya telah banyak hal yang saya dapatkan di samping energi yang lumayan terkuras. Semoga semua usaha ini akan memberikan energi positif untuk menjadi seorang guru pembelajar dan siap mengusung merdeka belajar. Salam guru penggerak, dan salam bahagia.

JURNAL REFLEKSI MINGGU 1

 

CALON GURU PENGGERAK ANGKATAN 3

OLEH: POSMAULI DEVITA SIHOMBING, S.Pd

 

TUGAS  1.1.a.10.1

Model 4F

Minggu ini adalah minggu pertama saya dalam mengikuti pendidikan calon guru penggerak melalui ruang kolaborasi. Penugasan pada LMS dikerjakan setiap hari. Pembelajaran tentang merdeka belajar yang diprakarsai oleh bapak Pendidikan Indonesia yaitu bapak Ki Hajar Dewantara saya jalani dengan penuh semangat. Setiap pembelajaran sudah terjadwal dengan teratur pada LMS dan dilakukan secara mandiri. Kegiatan pembelajaran dibimbing oleh fasilitator dan setiap hari saya didampingi oleh pengajar praktek. Informasi penting selalu update diberitahukan di LMS. Bersama calon guru penggerak lainnya, kami melakukan kolaborasi secara virtual melalui aplikasi Google Meet dengan melakukan video conference. Fasilitator selalu memberikan bimbingan dan panduan  dalam kegiatan virtual tersebut.

Banyak pembelajaran yang saya dapatkan di sini. Pemahaman saya tentang pemikiran Ki Hajar Dewantara semakin dipertajam. Pengetahuan saya semakin bertambah dari kegiatan pembelajaran di modul 1.1 ini. Menjadi seorang pendidik yang bisa menuntun anak didik seperti seorang petani. Pendidikan yang berpusat pada siswa, membuat siswa memiliki kemerdekaan belajar menjadikan anak didik memiliki profil pelajar pancasila. Ini adalah tugas yang tidak gampang. Namun harapan saya setelah mengikuti pembelajaran ini dapat membuka pemahaman saya untuk dapat melaksanakannya dengan sebaik-baiknya.

Seluruh rangkaian kegiatan pada LMS bisa saya ikuti dengan baik walaupun pada awalnya saya kewalahan dalam memahami setiap bagian-bagian pada LMS. Namun setelah saya pelajari setiap harinya, sakarang saya sudah mengerti setiap bagian dari kegiatan di LMS. Pada kegiatan virtual di Google Meet, pernah beberapa kali jaringan internet saya terganggu mengingat cuaca di daerah saya pada saat itu kurang bersahabat. Sehingga pada saat menyajikan hasil diskusi  melalui presentasi menjadi terkendala dalam menayangkan slide presentasi. Namun hal tersebut bisa diatasi atas arahan dari Fasilitator. Dan akhirnya diskusi pada ruang kolaborasi virtual bisa berjalan dengan baik.  Hal lain yang menjadi kendala adalah terkait waktu. Penugasan pada LMS mengharuskan saya setiap hari mengerjakan tugas yang sudah terjadwal dengan batas waktu pengumpulan tugas yang sudah ditentukan. Dan ini menjadi beban tersendiri bagi saya mengingat saya juga harus mempersiapkan pembelajaran daring kepada siswa saya. Ditambah lagi tugas di keluarga sebagai ibu rumah tangga untuk mengurus keluarga dan mengharuskan saya untuk setiap hari mengantar anak-anak saya untuk les tambahan. Namun saya tetap berupaya semaksimal mungkin agar bisa mengatur waktu saya dengan baik sehingga semua tugas bisa saya kerjakan dengan baik tanpa ada kekurangan suatu apa pun. Disini saya berusaha untuk membuat skala prioritas dalam mengerjakan setiap tugas supaya semua berjalan dengan baik sesuai dengan waktunya. Dan syukurlah semua berjalan dengan lancar dan bisa saya kerjakan dengan baik.

Ada kebanggaan tersendiri ketika saya terpilih dan dipercayakan mengikuti pendidikan guru penggerak ini. Mengingat banyaknya guru yang tereliminasi pada tahap seleksi. Dan saya menganggap ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh saya lepas. Satu demi satu kegiatan pembelajaran saya ikuti dan saya berusaha untuk tidak melewatkan satu kegiatan pun supaya saya tidak ketinggalan dari calon guru penggerak lainnya. Memang benar bahwa materi pada setiap modul ini sangat padat dan terinci namun saya terus berusaha untuk mengerjakan setiap penugasan tepat waktu.

Pendidikan guru penggerak ini memberikan banyak pembelajaran kepada saya. Pola pikir saya perlahan diubah tentang bagaimana seharusnya konsep merdeka belajar diterapkan. Dan pembelajaran tentang konsep pemikiran Ki Hajar Dewantara ini kini telah membuka  mata hati saya untuk mengapilikasikannya pada anak didik saya. Harapan saya kedepannya saya bisa menyelesaikan pendidikan guru penggerak ini dengan baik.

Koneksi Antar Materi - Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

Oleh Posmauli Devita Sihombing, S.Pd
CGP Angkatan 3 Kab.Batubara

Modul 1.2.a.9. Koneksi Antar Materi 

Pemahaman mengenai nilai dan peran Guru Penggerak

Filosofi Ki Hajar Dewantara “Pendidikan adalah tempat persemaian segala benih-benih kebudayaan yang hidup dalam masyarakat kebangsaan. Dengan maksud agar segala unsur peradaban dan kebudayaan tadi dapat tumbuh dengan sebaik-baiknya. Dan dapat kita teruskan kepada anak cucu kita yang akan datang.”

Hadirnya guru penggerak yang telah dicetuskan oleh Kemdikbud merupakan pemimpin pembelajaran yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik sesuai dengan kodrat yang ada dalam diri anak didik serta mampu secara aktif dan proaktif mengembangkan pendidik lainnya untuk mengimplementasikan pemikiran Ki Hajar Dewantara dengan pembelajaran yang berpusat pada murid, mampu menjadi teladan dan agen transformasi pendidikan untuk mewujudkan merdeka belajar.

Karena itu seorang guru penggerak sangat perlu memahami nilai-nilai guru penggerak dan nilai itu harus melekat pada dirinya sehingga mampu menjalankan perannya, yaitu mandiri, reflektif, inovatif, kolaboratif dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut  menjadi dasar dari seorang guru penggerak untuk menerapkan profil pelajar pancasila.

Mandiri

Seorang guru penggerak mampu mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya. Guru penggerak yang mandiri mampu memunculkan motivasi dalam dirinya sendiri untuk membuat perubahan baik untuk lingkungan sekitarnya ataupun pada dirinya sendiri untuk meningkatkan kapabilitas dirinya tanpa perlu dorongan dari pihak lain.

Reflektif

Seorang guru penggerak mampu memaknai pengalaman yang terjadi disekelilingnya yang bisa menimbulkan kesan positif dan negatif. Guru penggerak bisa merefleksi dan mengevaluasi kembali pengalaman tersebut sehingga bisa menjadi pembelajaran untuk menjalankan perannya di masa mendatang.

Kolaboratif

Guru penggerak harus mampu senantiasa membangun hubungan kerja sama yang positif terhadap seluruh pihak pemangku kepentingan yang berada di lingkungan sekolah dan luar sekolah yang mampu mendukung pencapaian profil pelajar pancasila.

Inovatif

Seorang guru penggerak mampu memunculkan gagasan-gagasan baru dan tepat guna terkait situasi tertentu ataupun permasalahan tertentu. Dia juga mampu menggunakan nilai reflektif dalam mengevaluasi sebuah proses ataupun masalah, dan mencari gagasan-gagasan lainnya untuk menyelesaikan masalah tersebut dengan jeli melihat peluang atau potensi yang ada di sekitarnya untuk mendukung ide orisinal demi menguatkan pembelajaran murid.

Berpihak pada murid

Selalu mengutamakan kepentingan murid sebagai acuan utama, maka seorang guru penggerak dalam pengambilan keputusan didasari pada orientasi pembelajaran pada murid terlebih dahulu.

Dengan nilai-nilai tersebut diharapkan seorang guru penggerak mampu menjalankan perannya yaitu, menjadi pemimpin pembelajaran, mampu menggerakkan komunitas praktisi, menjadi coach bagi guru lain, mendorong kolaborasi antar guru dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Diharapkan dengan diterapkannya nilai dan peran guru penggerak akan tercapailah karakter murid yang menjadi  profil pelajar pancasila yaitu 1)beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2)mandiri; 3)bergotong royong; 4)berkebhinekaan global; 5)bernalar kritis dan 6)kreatif. Karakter ini akan tercermin melalui perilaku sehari-hari sebagai suatu pembiasaan.

 

Keterkaitan antara nilai dan peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara

Sorang guru penggerak haruslah melekatkan nilai dan peran guru penggerak dalam dirinya. Ini sangat erat kaitannya dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Filosofi Ki Hajar Dewantara yang paling utama adalah menghamba pada murid atau berpusat pada murid. Sebagai guru kita harus mengetahui apa yang diinginkan oleh murid sehingga kita bisa memberikan apa yang dibutuhkan oleh murid.

Ki Hajar Dewantara mengibaratkan seperti seorang petani yang menanam padi. Jika tanaman ditanam ditanah subur namun tidak dipupuk dan disiram, maka hasil padi tidak akan bagus namun apabila padi ditanam di tanah biasa namun dirawat dengan baik, diberi nutrisi berupa pupuk, dibersihkan dari hama dan dialiri air secara berkala maka akan menghasilkan padi kualitas unggul. Begitupun dengan murid, murid dengan kemampuan biasa namun tidak dirawat,tidak diperhatikan maka akan menjadi murid dengan kualitas biasa, namun apabila murid dengan kemampuan biasa jika dididik dengan baik, diarahkan dan dituntun, maka akan menjadi murid dengan kualitas diri dan karakter yang luar biasa. Hal ini tidak terlepas dari nilai dan peran guru sehingga dengan menerapkan nilai dan peran guru akan menghasilkan murid dengan kemampuan luar biasa.

 

Strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai nilai dan peran guru penggerak 

  1. Melakukan pembiasaan dengan terus dan berkelanjutan secara kontinu menjalankan peran dan nilai sebagai guru penggerak. 
  2. Meningkatkan kompetensi melalui pengembangan diri secara mandiri 
  3.  Terus melakukan praktik baik dengan aksi nyata untuk meningkatkan kualitas pendidikan 
  4. Membuat perubahan dalam pendidikan Indonesia khususnya dalam lingkungan sekolah dan sekitar 
  5.  Terus belajar sepanjang hayat dan memberi dampak baik bagi orang lain

 

Pihak yang dapat membantu dalam mencapai nilai dan peran guru penggerak 

Untuk menjalankan nilai dan peran sebagai guru penggerak sangat dibutuhkan kerjasama dan bantuan dari berbagai pihak sehingga tujuan yang ingin dicapai bisa terwujud dengan maksimal.

Pihak yang dapat membantu dalam mewujudkan hal tersebut adalah :

  • Kepala sekolah, kepala sekolah memiliki peran penting karena sebagai pemangku jabatan tertinggi di sekolah yang mampu memberikan jalan terbaik dan dukungan bagi guru.
  • Teman sejawat, teman sejawat memiliki peran sangat penting untuk berkolaborasi dan bekerja sama untuk menjalankan visi sekolah
  • Peserta didik, melalui mereka saya bisa merefleksikan peran saya sebagai guru penggerak dan menerapkan pembelajaran yang berpusat pada anak didik
  • Keluarga. Peran keluaga sangat penting untuk mendukung nilai dan peran seorang guru penggerak. Karena keluarga lah yang menjadi penyemangat kita dalam menjalankan setiap peran kita sebagi guru. 

 Sekian, Salam dan Bahagia


Posmauli Devita Sihombing, S.Pd

CGP Angkatan ke 3

Kabupaten Batubara

Koneksi Antar Materi – Pendidikan yang Memerdekakan

  by POSMAULI DEVITA SIHOMBING    Setiap individu lahir dengan kodrat dan keunikannya masing-masing Selaras dengan pemikiran KHD bahwa...