Rabu, 15 September 2021

Terimakasih guruku


Suara klakson mobil terdengar siang ini dari teras rumah. Bu Siti yang sedang menggoreng ikan gurami langsung berlari dari dapur untuk membuka gerbang. Ternyata jam dinding menunjuk pukul 5 sore. Ini adalah waktu dimana mama dan papaku pulang kerja. 

Sesampai di garasi, mama turun dari mobil langsung menghampiri saya yang lagi asyik di depan laptop. 

"Lagi apa sayang", tanya mama.

"Ini ma, lagi nonton Drakor", jawabku.

Mama langsung duduk di sebelahku, mendampingiku sambil memeluk tubuhku yang imut. 

 

Setiap hari mama papa kerja dari jam 7.30 sampai sore 16.00. Sampai dirumah biasanya jam lima sampai jam 6 sore. Terkadang mereka juga lembur sampai malam. 

Setiap hari mama dan papa sibuk kerja. Sampai sampai tidak punya waktu untuk menemaniku bermain. 

Tapi yaa sudahlah, toh saya juga punya gawai yang selalu menemaniku seharian di rumah. 

Saya anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamaku selalu sibuk dengan kegiatan ekskul pramuka nya. Hampir setiap hari dia keluar rumah. Kakak kedua juga sama. Sejak papa belikan dia sepeda motor dia jadi sering kali tour sama teman temannya. Padahal dari usianya yang masih duduk dibangku kelas 8 seharusnya dia belum bisa bawa sepeda motor karena kan belum punya SIM.

Aku yang masih kelas 5 SD selalu dirumah ditemani ibu Siti. 

Om bob selalu setia menemaniku, antar jemput ku ke sekolah. 

Hari ini ada tugas Matematika. Sulit rasanya aku membuka buku mm ku. Bermain game di gawailah membuatku betah di rmh. 

Ratusan Anak di Jawa Barat Kecanduan Gadget Sudah Dirawat di Rumah Sakit  Jiwa, Hati-hati Bunda! - Hulondalo.id

Ada temanku namanya Osmar. Dia anak yang pintar, pendiam, polos dan penurut. Dan banyak gitu yang senang padanya bahkan memanfaatkan kepolosanya. Saya sering mentraktir nya jajan di kantin hanya supaya dia mau mengerjakan pr ku bukan hanya mm tapi semua pelajaran. 

 

Bukan cuman aku ada lebih dari 10 orang kawanku melakukan hal yang sama pada Osmar. Kawan lain tau akan hal ini tapi tak ada yang berani melapor ke guru. 

 

Suatu ketika selesai belajar bahasa Indonesia, ibu Vani memanggil Osmar dan membawanya ke ruang guru. Karena setelah ibu Vani mengumpulkan tugas anak-anak, ternyata hampir semua buku PR yang diperiksa ibu tulisannya sama. 

 

Bukan cuman ibu Vani, semua guru yang masuk ke kelas saya menyatakan juga hal yang sama. Namun Osmar tetap membisu tidak mw mengakui kalo semua itu tulisannya. Dia takut kalau kawan kawan marah padanya. 

 

Lalu bu guru memanggil Angga teman sebangku Osmar. Lalu Angga menceritakan bahwa setiap hari setelah selesai pembelajaran kawan kawannya memberikan buku tugas kepada Osmar untuk dibawa pulang. Di rmh lah Osmar menulis setiap tugas dibuku kawan kawan tersebut. Dan itu sudah berlangsung lama. 

Bagi mereka yang pengertian, ada yang mentraktirnya jajan, ada yang memberi uang, ada yang hanya bilang trimakasih. Osmar terpaksa mau melakukannya, selain karena takut pada kawan, Osmar juga butuh jajan dan uang karena memang Osmar hampir tidak pernah dikasi uang jajan oleh orang tuanya. 

 

Osmar tinggal di pinggir sungai. Pencarian Orangtuanya hanyalah mencari ikan di sungai. Kalau dapat ikan ya bisa dijual dan buat makan. Terkadang orangtuanya bekerja upahan diladang tetangga. Penghasilannya cukup memprihatinkan. 

 

Ibu guru memanggil 10 kawan osmar. Menurut ibu guru mungkin ini hal serius sehingga harus memanggil kami bersepuluh. Jantung saya berdetak begitu kencang, takut kalau nanti orangtuaku dipanggil ke sekolah. Memang orangtuaku tidak pernah memberikan hukuman fisik pada ku, tetapi pengurangan uang jajan pasti dilakukan dan ini membuatku sangat stress.

 

Ibu Vita yang adalah wali kelas kami sudah menunggu di ruang BK bersama guru BK dan Ibu Vani. Satu persatu kami dinterogasi oleh guru BK. Terkadang keluar suara-suara keras dari mulut ibu BK terkadang juga keluar celotehan lembut yang menyejukkan hati.

 

Banyak sekali nasehat dan semangat yang diberikan ketiga ibu guru tersebut kepada kami. Tapi seperti angin lalu di telingaku. Aku dan teman-teman hanya mengangguk-angguk tanda mengerti atau apa, akupun tak tahu. Terkadang aku lirik-lirikan dengan kawan disebelah, kadang juga senggolan kecil pertanda ingin memberi kode.

 

Ibu BK tetap memberikan celotehannya dengan banyak nasihat. Namun entah kenapa Ketika ibu BK akan membuat surat panggilan orangtua, kami langsung serentak teriak histerus.

“Jangan ibu, jangan, kami nggak akan melakukan kesalahan ini lagi”, teriak Iwan yang kebetulan duduk dibelakangku.

 

Satu persatu kami menangis serasa menyesali kesalahan kami. Wajah-wajah penyesalan pun mulai muncul diraut kami yang polos setelah surat panggilan orangtua dikeluarkan.

 

Tangisan dan jeritan kami ternyata bisa meluluhkan hati ibu BK. Dengan suara lembutnya, dia mengajak kami membuat beberapa kesepakatan, dengan tanpa memanggil orangtua.

 

Kesepatannya antara lain:

Membersihkan kamar mandi cowok dan membersihkan halaman sekolah selama satu bulan setiap jam istirahat. Meminta maaf pada Osmar dan mau bersahabat dengan dia bukan karena memanfaatkannya untuk mengerjakan tugas, tidak lagi meminta Osmar untuk mengerjakan PR kami. Membuat kelompok belajar dikelas dan meminta Osmar untuk mengajari kami belajar di kelas, Mau mengerjakan PR di rumah.

 

Ya..sepertinya kesepakatan ini terlihat gampang, tapi ini beban yang sangat berat bagiku. Terpaksa ini kami setujui supaya orangtua kami tidak dipanggil ke sekolah.

 

Setelah membuat kesepakatan, kami diajak ibu BK untuk merenung sambil menuliskan sebanyak-banyaknya kesalahan kami di sekolah. Ibu Vani menyiapkan kertas dan pulpen dan meminta kami menuangkan isi hati kami di kertas tersebut. Entah kenapa sambil menulis air mata ini selalu mengalir tanpa bisa dibendung, teman-temanku juga mengalami hal yang sama. Entah bius apa yang sudah disuntikkan ibu guru kepada kami saat itu.

 

Ada rasa penyesalan yang mendalam dari diri ini. Sejak saat itu aku bertekad untuk mau berubah. Ibu guru sudah menyadarkanku dan kawan-kawan supaya aku bisa memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

 

Selesai dari sini aku akan kembali kedalam kehidupanku sehari-hari. Namun celotehan ibu guru serasa masih tertinggal di telinga ini. Selalu terngiang-ngiang.

Aku mulai merasakan ada yang berubah dari diri ini. Membaca buku di rumah mulai kutekuni. Mengerjakan tugas di buku sekolahku mulai kukerjakan. Bahkan andriodku bisa diam beberapa jam di atas meja tanpa sentuhanku karena kesibukanku yang baru ini.

 

Terimakasih ibu guru. Celotehanmu sudah mengubah hidupku. Nasihatmu bagai obat manjur bagi tubuhku. Sehingga hari-hariku tidak lagi melulu di depan gawai.

 



Posmauli devita Sihombing,S.Pd
 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Koneksi Antar Materi – Pendidikan yang Memerdekakan

  by POSMAULI DEVITA SIHOMBING    Setiap individu lahir dengan kodrat dan keunikannya masing-masing Selaras dengan pemikiran KHD bahwa...