Sabtu, 07 Agustus 2021

Menjadi penulis Buku Mayor

 

 Resume ke    : 12

Gelombang    : 19 

 Tanggal          : 06 Agustus 2021

 Tema              : Menjadi Penulis Buku Mayor
 
 Narasumber : Joko Irawan Mumpuni 

            Banyak orang ingin menjadi seorang penulis hebat yang karyanya bisa tembus ke penerbit mayor. Karena akan ada banyak keuntungan yang bisa kita dapatkan jika tulisan kita bisa tembus ke penerbit mayor. Sama seperti saya yang juga ingin karya saya nantinya bisa dicetak di penerbit Mayor. Tapi rasanya ini hanya sebuah mimpi yang hanya bisa hilang setelah saya bangun dari tidur.
    
            Malam ini saya masih ikut dalam kelas online dalam pelatihan menulis. pelatihan ini dimoderatori oleh Mr Bams, seorang guru yang kreatif dan humoris. narasumber kita adalah bapak Joko Irawan Mumpuni. Berikut biodata beliau.
               
        Di penerbit Andi, nama bapak Joko sudah tidak asing lagi. Beliau sudah hampir 20 tahun berkecimpung di dunia penerbitan, penulisan dan aktif di asosiasi penerbit di Indonesia. Karena itu tidak heran kalau bapak yang satu ini sering diundang pada seputaran Peberbitan dan penulisan buku.
 
        Penerbitan buku biasanya dikenal dengan istilah penerbit Mayor dan penerbit Minor. Penerbit ini berbeda dalam hal jumlah terbitan buku pertahun, dimana penerbit mayor jauh lebih banyak terbitan bukunya dibanding penerbit minor.

           Setiap penulis akan lebih bangga jika karyanya diterbitkan oleh penerbit mayor. Karena naskah karyanya akan dikelola lebih profesional. Dan penerbit mayor biasanya punya fasilitas yang lebih baik, modal yang besar, percetakan, SDM juga jaringan pemasaran yang pastinya lebih luas.
 
        Namun untuk bisa masuk diterima dan diterbitkan karyanya oleh penerbit mayor harus melalui seleksi dengan tingkat persaingan yang sangat ketat. Contoh di Penerbit ANDI, tiap bulan naskah yang masuk bisa sampai 300 sd 500 naskah dan yang diterbitkan hanya 50 sampai 60 judul saja. Sisanya akan dikembalikan ke penulis atau ditolak.
 
          Namun sekarang ini, karena begitu sulitnya menembus penerbit profesional baik yang penerbit minor apalagi penerbit mayor, maka para penulis ada yang menerbitkan karyanya sendiri yang  disebut dengan Penerbit Indie.

         Setiap penulis haruslah bisa menyajikan tulisan dimana naskah bukunya bisa dijadikan buku yang laris dijual dipasaran. Berikut ini adalah pengelompokan buku yang bisa dijual di pasaran:
 
        Produk buku di pasaran dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok buku teks dan kelompok buku non teks. Buku teks adalah buku yang digunakan olah mahasiswa atau siswa dalam proses pembelajaran. Ditingkat sekolah disebut buku pelajaran disngkat BUPEL sedangkan untuk kelompok mahasiswa disebut buku perguruan tinggi disingkat PERTI. Sedangkan buku non teks adalah sebaliknya dan cenderung disebuat sebagai buku-buku populer karena memang kontennya berupa apa saja yang populer dan dibutuhkan oleh masyarakat.
            Berikut ini adalah contoh dari buku teks.

            Berikut ini adalah contoh dari buku non teks.

        Sekarang ini banyak para pembaca yang bebas memilih buku apa yang disukainya. Karena pembaca tidak lagi terbagi-bagi menurut kelompok buku teks ataupun non teks. Setiap apapun buku yang dibaca, itu bisa dijadikan referensi untuk praktek kehidupan sehari hari maupun dalam rangka mendapatkan jenjang akademik yang lebih tinggi sesuai dengan peminatan masing-masing.
 
        Setiap perusahaan pasti akan mencari keuntungan untuk bertahan hidup dan berkembang sama seperti industri penerbit. Naskah yang masuk pun akan dianggap sebagai bahan baku output industri. Jika bahan baku bagus maka akan menghasilkan produk yang bagus pula. Oleh karena itu para penulis dan calon penulis harus paham cara berfikir industri penerbitan agar naskah tidak ditolak. 


        Berikut ini adalah gambaran industri penerbitan secara lengkap, namun jika disederhanakan akan menjadi seperti ini:
       
         Sistem penilaian di penerbitan bisa dilihat sebagai berikut:


        Ternyata tidak semua tulisan bisa diterima penerbit, karena naskah yang bisa diterima penerbit adalah naskah yang bisa dijadikan buku dan bukunya laku terjual. Yaitu naskah tema yang populer dengan penulis yang populer juga.


        Sesuai data dari Google Trend, ternyata ada tema-tema buku yang mempunyai masa trend. karena tidak setiap tahun buku tersebut dicari pembaca. Seperti tentang buku batu akik yang laku sekitar tahun 2013 sampai 2014. Saat ini buku tersebut sudah tidak diminati.

        Berikut ini adalah contoh tema yang memiliki trend yang baik yang bisa dilihat dari grafiknya; selalu tinggi, stabil dan tidak pernah menyentuh titik NOL.
        
            Karena itu perlu untuk menghindari tema-tema yang telah mati karena Corona, seperti:

        Berikut ini adalah bidang-bidang baru karena Corona. Tema-tema yang membahas seputaran bidang inilah yang kemungkinan laku di pasaran.

        
        Untuk tema yang dianggap telah bagus, penerbit akan mengecek REPUTASI penulisnya. Ternyata ini dapat ditelusuri dari Google Scholar, seperti berikut ini:
 
 
Yang menjadi dasar pertimbangan dari penerbit dalam menentukan oplah atau jumlah cetak adalah :

         
        Kategori naskah dapat diperhatikan sesuai dasar penentuan oplah. Penerbit akan menentukan oplah tinggi jika buku itu dinilai mempunyai market lebar dan lifecycle panjang. Lifecycle panjang artinya buku itu akan tetap relevan di masa yang akan datang dalam waktu yang panjang.
 
        Pada pemaparannya, pak Joko menampilkan sebuah kutipan motivasi sebagai berikut: "Tahu kah kau kenapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam di telan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari..." (Pram 06/02/2006).
        
        Apa yang akan penulis dapatkan dari hasil menulis? Tidak hanya kepuasan batin yang didapat tetapi juga reputasi, karir yang semakin baik dan tentunya uang.



        Banyak orang mempunyai kategori PENULIS IDEALIS (tidak butuh uang). Ada juga yang menganut kategori  PENULIS INDUSTRIALIS (yang harus mendapatkan uang saat menulis). Namun yang disukai penerbit adalah kwadran kanan atas yaitu IDEALIS sekaligus INDUSTRIALIS.

        Motivasi sebagai banhan perenungan yang disajikan oleh pak Joko berikut ini bisa menjadi penyemangat:

"Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah (Rumah Kaca, h.352)" - Pramoedya Ananta Toer-

"Bila kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah" (Al Ghazali)

"katakan pada DILAN, yang berat itu bukan rasa RINDU, tetapi MENULIS BUKU. Biarlah aku saja yang menanggungnya." (Sumber dari Film DILAN)

        Ada banyak sekali pertanyaan para peserta yang begitu antusias dalam kelas online ini. Berikut ini beberapa jawaban pertanyaan yang telah saya rangkum sebagai berikut:

  1. Penerbit tidak pernah memberi alasan yang detail ketika naskah ditolak. Alasannya hanya dengan kalimat "Belum sesuai kreteria penerbitan kami"
  2. Visi penerbit ANDI adalah IKUT SERTA DALAM MENCERDASKAN BANGSA. Jadi selama buku itu mencerdaskan baik teks maupun non teks tetap kami terbitkan. 
  3. Ada dua kategori buku yang tidak akan pernah kami terbitkan selaris apapun buku itu. Buku yang tidak akan kami terbitkan kapanpun adalah Buku Pornografi dan buku Politik Praktis.
  4. Trik yang harus dilakukan oleh seorang penulis agar tulisan nya bisa diterima di penerbit mayor adalah bersahabatlah dengan penerbit, dengan penulis-penulis yang sudah berhasil tembus penerbit mayor. dan berdiskusilah, bertanyalah maka jawaban itu akan kita dapatkan dari sana. tidak hanya jawaban yang pasti tetapi motivasi.
  5. Untuk buku populer analisanya bisa kita cocokkan salah satunya dengan data grafis di Google Trend. Namun untuk buku fiksi sebaiknya lanjutkan saja sampai selesai, lalu lanjut dengan judul lain dan bila perlu genre fiksi yang lain. Buku Fiksi akan mengalami pasang surut dipasaran tergantung pemicu dari banyak aspek. Misal saat ini yang lagi trend adalah Fiksi dngan genre Sastra Serius, sebelumnya yang laris adalah gaya fiksi K-Pop, dan sebelumnya lagi adalah novel-novel idealis. Begitu seterusnya akan berputar. Jadi kalau sudah punya novel simpan saja dan keluarkan pada saat yang tepat. Namun kalau kita punya jaringan yang luas bisa memakai endors2 agar novel yang kita tulis dibaca banyak orang.
  6. Bagi para pemula disarankan untuk menulis buku-buku dengan tema-tema yang sedang ngetrend. Tulislah dan teroboslah penerbit mayor dengan setidaknya 5 judul buku anda yang best seller. Bila itu terjadi maka sekarang andalah yang dikejar-kejar penerbit mayor agar mau menerbitkan naskah melalui penerbitnya.
  7. Kriteria utama naskah bisa diterima adalah jika menurut penerbit naskah itu jika nantinya diterbitkan berupa buku akan banyak pembelinya, karena buku itu sedang banyak dibutuhkan masyarakat. Jadi coba renungkan sekarang kita sedang butuh buku yang seperti apa. Lalu kita tanyakan kepada teman-teman kita, ternyata juga butuh buku yang sama, misal PETUNJUK ISOLASI MANDIRI baik UNTUK POSITIF COVID maupun KELUARGANYA. 

 

         Pesan dari Pak Joko adalah "Tulis dan Sampaikan"

"...orang yang berani menulis adalah mereka yang berani bermimpi. Dan yang bersedia membagi mimpinya kepada orang lain, adalah mereka yang siap mewijudkan mimpinya tersebut..."

"... semakin kita sering menulis, maka akan semakin lekatlah ilmu tersebut pada diri kita. Dan untuk meninggikan pengetahuan yang kita miliki, sampaikanlah kepada orang lain..."

         Beliau juga memaparkan bagaimana menemukan ide dalam menulis, yaitu dengan mendengar, melihat, mencium, mengecap dan menyentuh.  

  1. Mendengar (listen), contoh: dalam perjalanan ke suatu tempat, kita mendengar percakapan tentang dampak kenaikan harga BBM. Maka kita bisa membuat tulisan yang berjudul: Resahnya kaum susah.
  2. Melihat (look), contoh: di lampu merah, kita melihat kaum fakir miskin sedang meminta-minta. Maka kita bisa membuat ulisan yang berjudul: Kepedulian kita, kebahagiaan mereka. 
  3. Mencium (smell), contoh: masuk kke ruang pertemuan di sebuah hotel, langsung tercium bau wangi yang menyegarkan. Maka kita bisa membuat tulisan yang berjudul: Asah ilmu tak lagi membuat Jemu.
  4. Mengecap (taste), contoh: saat berbuka puasa di warung tegal, cita rasanya tak terkalahkan. Maka kita bisa membuat tulisan yang berjudul: Berbuka sehat, berbuka sederhana.
  5. Menyentuh

            Di akhir pemaparannya, pak Joko menegaskan bahwa semua berasal dari mimpi. Kejarlah mimpi itu. Menjadi penulis kita akan mendapatkan segala yang kita inginkan. Menulis tidak mengenal usia. Ada banyak penulis bukunya menjadi best seller setelah penulisnya meninggal. Seperti tulisan dari penulis hasan sadeli yang sampai saat ini anak cucunya masih menikmati warisan royaltynya. 

        Terima kasih Pak Joko. Banyak ilmu yang sudah bapak bagikan. Semoga mimpi bisa menjadi kenyataan dengan bisa tembus naskah ini ke penerbit Mayor. 



2 komentar:

  1. Makin renyah saja tulisan Ibu. Semoga bisa dirngkai menjadi buku yang diterbitkan oleh penerbit mayor ya Bu. Semangat terus!

    BalasHapus
  2. Cita-cita dihati semoga segera terwujud ya bu. Semangat kita bersama

    BalasHapus

Koneksi Antar Materi – Pendidikan yang Memerdekakan

  by POSMAULI DEVITA SIHOMBING    Setiap individu lahir dengan kodrat dan keunikannya masing-masing Selaras dengan pemikiran KHD bahwa...